Berkarya seni adalah merealisasikan konsep seni dengan mengekspresikan nya dalam karya seni. Dimulai dari tahap ide atau gagasan sampai dengan wujud karya seni, semua tidak lepas dari hasil pengamatan dan interaksi dengan lingkungan sekitar atau pun pengalaman individu masing-masing.
Yang dimaksud berkaya seni untuk perubahan di lingkungan sekolah/ madrasah yaitu proses memecahkan sebuah permasalahan nyata disekitar lingkungan sekolah/ madrasah dengan menggunakan proses berpikir rancang (design thinking) yang umumnya digunakan oleh desainer dan juga penelitian khas seniman, sehingga menghasilkan sebuah karya seni yang dapat menjadi solusi dan perubahan
Proses kreasi seni dan desain selama bertahun-tahun telah berkembang dari sekedar membuat gambar menjadi terlibat pada pemecahan masalah yang ada di lingkungan sekitar. Berbeda dengan cara saintifik untuk pemecahan masalah, cara artistik menawarkan pola pikir dan juga proses yang berbeda.. Jika pada cara sanitifik pola pemecahan masalah lebih linier, maka pada cara artistik ada pola yang tersebar dan memusat.
Konsep Proses Berpikir Rancang (Design Thinking) dan Penelitian Berbasis Seni (Art Based Research)
Proses yang dikenal dengan berpikir rancang (design thinking) dan juga metode penelitian berbasis seni (art based research) telah berkembang secara meluas dalam 3 dekade terakhir. Keduanya bersifat komplementer dan saling melengkapi antara satu sama lainnya.
A. Proses Berpikir Rancang (Design Thinking)
Pembelajaran menggunakan proses berpikir rancang (design thinking), yaitu peserta didik mengikuti sebuah alur belajar yang diawali dengan tahap merasakan, membayangkan, melakukan samapi dengan tahap berbagi.
1. Merasakan
Pada tahap “merasakan” dimulai dengan membangun sebuah kelompok dimana peserta didik akan belajar berkolaborasi bersama teman-temannya untuk bersama-sama mengamati dan mencatat permasalahan yang ada di setiap sudut sekolah. Pada tahap pembentukan kelompok ini, peserta didik menentukan ketua dan anggota kelompoknya, lalu menerapkan materi sebelumnya yaitu menentukan nama kelompok (menerapkan materi Tipografi) dan membuat logo kelompok (materi Logo).
Pada tahap ini pula peserta didik dalam kelompok melakukan observasi lingkungan sekolah/madrasah untuk menemukan permasalahan dan penyebabnya.
Peserta didik dalam kelompok melakukan observasi lingkungan sekolah/madrasah
untuk mencari masalah dan penyebabnya (Merasakan).
2. Membayangkan
Pada tahap “membayangkan”, peserta didik berdiskusi dan menentukan permasalahan apa yang ingin dan mampu mereka selesaikan dengan sebuah karya seni atau desain, serta mengembangkan alternatif solusi seni atau desain. Hal yang perlu diperhatikan bahwa peserta didik diharapkan bisa memilih solusi yang mampu dikerjakan dalam waktu singkat (2-3 pertemuan) sesuai dengan kemampuan tingkat perkembangan umurnya. Dengan demikian tidak disarankan untuk memilih permasalahan dengan solusi yang rumit.
Peserta didik dalam kelompok mencari solusi untuk pemecahan masalah (Membayangkan).
3. Melakukan
Pada tahap “melakukan”, peserta didik mengerjakan solusi yang sudah dipilih dalam kelompok selama 2-3 pertemuan. Pada tahap ini peserta didk menghasilkan sebuah karya seni untuk mewujudkan solusi yang mereka pilih, sehingga karya seni tersebut dapat membuat suatu perubahan yang berdampak langsung maupun tidak langsung untuk lingkungan sekolah/madrasah. Hasil minimal yang diharapkan adalah poster untuk peningkatan kesadaran yang ditempel di tempat yang menurut mereka perlu (misalnya: untuk menjaga kebersihan sekolah). Meskipun demikian peserta didik diperbolehkan untuk mengerjakan solusi yang lebih berdampak (misalnya membuat rak sepatu di luar mushola, perpustakaan atau UKS sekolah).
Peserta didik dalam kelompok bekerjasama membuat karya seni poster
(Melakukan).
4. Berbagi
Sebelum tahap terakhir “berbagi”, masing-masing kelompok didorong untuk melakukan evaluasi
(lembar evaluasi disediakan oleh guru). Kemudian Pada tahap “berbagi”, peserta didik mendapatkan
kesempatan berbagi dan menyimak proses yang sudah dijalani masing-masing kelompok.dengan
Sebelum tahap terakhir “berbagi”, masing-masing kelompok didorong untuk melakukan evaluasi
(lembar evaluasi disediakan oleh guru). Kemudian Pada tahap “berbagi”, peserta didik mendapatkan
kesempatan berbagi dan menyimak proses yang sudah dijalani masing-masing kelompok.dengan
menyiapkan bahan presentasi dalam masing-masing kelompok alur kerja mereka, dari mulai
“merasakan” hingga “melakukan”untuk ditampilkan kepada seluruh kelas, bisa dalam bentuk tulisan
(poster) ataupun presentasi verbal di depan kelas.
berkarya seni untuk perubahan (Berbagi).
B. Penelitian Berbasis Seni (Art Based Research)
Penelitian berbasis seni (art based research) adalah metode penyelidikan kualitatif formal yang
menggunakan proses artistik untuk memahami dan mengartikulasikan subjektivitas pengalaman manusia.
menggunakan proses artistik untuk memahami dan mengartikulasikan subjektivitas pengalaman manusia.
Kerja imajinatif dan intelektual yang dilakukan seniman pada dasarnya adalah sebuah bentuk penelitian.
Seniman menghasilkan karya seni dan meneliti proses kreatif sebagai upaya menngakumulasikan
pengetahuan tentang karya seni dan proses kreatif bersifat personal, berpusat pada praktik kreatif itu sendiri.
Penelitian berbasis seni (art based research) yang dilakukan di sekolah/madrasah dimulai dengan
bertanya kepada peserta didik, karena pertanyaan yang baik bisa membawa solusi yang tepat.
Kemudian peserta didik akan berimajinasi seluas mungkin, mengembangkan segala macam alternatif
dari yang mudah hingga yang sulit terwujud, dari yang paling realistis hingga yang paling tidak masuk akal.
Sebelum melakukan, peserta didik memilih pilihan yang paling memungkin dilakukan namun cukup
berdampak. Kemudia peserta didik membuat rancangan dan menyelesaikan solusi tersebut.
Setelah selesai, peserta didik harus melalui tahap evaluasi untuk memeriksa apakah solusi tersebut
masih tepat dan dibuat dengan baik. Tahap yang terakhir adalah berbagi dengan bercerita mengenai
rangkaian proses yang sudah dilewati sebelumnya.
Sumber: Buku Panduan Guru Seni Rupa SMP Kelas VII, Karya Ardhana Riswarie dan
Vincent Albert Samoel, BPPPPKP Kemendikbudristek, tahun 2021.
Vincent Albert Samoel, BPPPPKP Kemendikbudristek, tahun 2021.

Komentar
Posting Komentar